Perbandingan Arsitektur Monolitik dan Microservices: Memilih Pendekatan yang Tepat untuk Aplikasi Anda

Posted: 26-12-2024, 20:53 WIB
connection

Dalam dunia pengembangan perangkat lunak, pemilihan arsitektur yang tepat sangat penting untuk memastikan aplikasi dapat berkembang sesuai kebutuhan bisnis. Dua pendekatan arsitektur yang populer adalah Monolitik dan Microservices. Memahami perbedaan, kelebihan, dan kekurangan keduanya akan membantu Anda menentukan mana yang paling sesuai untuk proyek Anda.


Apa Itu Arsitektur Monolitik?

Arsitektur monolitik adalah pendekatan di mana semua komponen aplikasi digabungkan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ini berarti frontend, backend, dan database berada dalam satu kode basis yang sama. Pendekatan ini sederhana dan cocok untuk aplikasi dengan skala kecil hingga menengah.

Kelebihan:

  • Sederhana: Mudah dikembangkan dan diterapkan karena semua komponen berada dalam satu tempat.
  • Kinerja Tinggi: Tidak ada overhead komunikasi antar layanan, sehingga respons lebih cepat.

Kekurangan:

  • Skalabilitas Terbatas: Sulit untuk diskalakan secara parsial; harus menambah sumber daya untuk seluruh aplikasi.
  • Pemeliharaan Sulit: Perubahan kecil dapat mempengaruhi seluruh sistem, meningkatkan risiko kesalahan.

Apa Itu Arsitektur Microservices?

Arsitektur microservices memecah aplikasi menjadi layanan-layanan kecil yang berdiri sendiri dan berfokus pada satu fungsi bisnis. Setiap layanan dapat dikembangkan, diterapkan, dan diskalakan secara independen.

Kelebihan:

  • Skalabilitas Tinggi: Setiap layanan dapat diskalakan sesuai kebutuhan tanpa mempengaruhi yang lain.
  • Fleksibilitas Pengembangan: Tim dapat bekerja secara paralel pada layanan yang berbeda dengan teknologi yang berbeda pula.

Kekurangan:

  • Kompleksitas Tinggi: Membutuhkan manajemen yang baik untuk komunikasi antar layanan dan pengelolaan data.
  • Overhead Komunikasi: Interaksi antar layanan melalui jaringan dapat menambah latensi.

Studi Kasus: Transformasi Telkomsel Orbit dari Monolitik ke Microservices

Telkomsel Orbit, layanan internet rumah dari Telkomsel, awalnya dibangun dengan arsitektur monolitik. Seiring pertumbuhan pengguna, mereka menghadapi tantangan skalabilitas dan fleksibilitas. Dengan beralih ke arsitektur microservices, Telkomsel Orbit berhasil meningkatkan efisiensi, fleksibilitas pengembangan, dan stabilitas sistem.

Diagram Perbandingan Arsitektur

Berikut adalah diagram yang menggambarkan perbedaan antara arsitektur monolitik dan microservices:

Monolitik dan Microservices
Source: https://miro.medium.com/max/6996/1*xu1Ge_Cew0DHdSU6ETcpLQ.png

Diagram ini menunjukkan bahwa dalam arsitektur monolitik, semua komponen terintegrasi dalam satu server, sedangkan dalam arsitektur microservices, komponen dipisah menjadi layanan-layanan independen dengan database masing-masing.


Analisis Risiko dan Solusi

Risiko Arsitektur Monolitik:

  1. Skalabilitas Terbatas:
    • Solusi: Memisahkan modul tertentu menjadi layanan independen atau mempertimbangkan migrasi bertahap ke microservices.
  2. Downtime Saat Update:
    • Solusi: Implementasi deployment blue-green atau canary untuk meminimalkan gangguan selama pembaruan.

Risiko Arsitektur Microservices:
  1. Komunikasi yang Kompleks:
    • Solusi: Menggunakan API Gateway untuk mengatur routing dan keamanan antar layanan.
  2. Manajemen Data Terdistribusi:
    • Solusi: Implementasi database yang terpisah untuk setiap layanan dan sinkronisasi dengan event-driven architecture.

Kesimpulan

Pemilihan antara arsitektur monolitik dan microservices bergantung pada kebutuhan bisnis, skala aplikasi, dan tingkat fleksibilitas yang diinginkan.

  • Monolitik cocok untuk aplikasi kecil atau MVP yang cepat dibangun dan mudah dikelola.
  • Microservices lebih cocok untuk aplikasi besar dengan kebutuhan skalabilitas tinggi dan tim pengembang yang terdistribusi.

Referensi

  1. Badr.co.id - Perbandingan Monolitik dan Microservices
  2. AWS - Perbedaan Monolitik dan Microservices
  3. Salt.id - Studi Kasus Telkomsel Orbit

Yuk, Jelajahi Topik Lainnya!